Kebencian terhadap komunisme ditanamkan kepada seluruh rakyat Indonesia, tanpa mereka perlu tahu apa itu komunisme. Mereka cukup diberi kabar burung bahwa komunis itu kejam, atheis, punya kebiasaan saling bertukar istri, dan hal-hal lainnya yang tidak ada hubungannya dengan ideologi komunis. Seluruh pelajar Indonesia dibekali dengan pengetahuan sejarah tentang PKI yang “kejam”. Pula mengajarkan bahwa selain atheis, komunisme juga berbahaya dan mengancam kehidupan bangsa hanya dengan penjelasan yang dangkal. Tiap tahun kebencian itu ditanamkan kepada seluruh rakyat Indonesia dengan tontotan berdarah wajib pada 30 September malam, film yang menjadi satu-satunya tontonan kekerasan yang boleh dinonton oleh anak-anak saat itu. Hari kesaktian Pancasila dan monumen pahlawan revolusi bukan untuk pendalaman nilai Pancasila dan mengenang jasa-jasa dewan jenderal, melainkan untuk mengenang sejarah palsu dan memperdalam kebencian terhadap PKI.
Bangsa dibuat amnesia mengenai jasa-jasa komunisme dalam sejarah Indonesia. Lupa bahwa yang melawan imperealisme Belanda adalah komunisme. Lupa bahwa yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang komunis. Lupa bahwa Pancasila lahir dengan ide sosialis yang menjadi semangat komunisme. Tapi ah…sudahlah!

Film Senyap adalah film dokumenter tentang seorang keluarga korban pembunuhan massal terhadap orang-orang PKI dan yang berada disekitarnya, yang bernama Adi Rukun. Ia mencoba menemui satu per satu orang-orang yang terlibat dalam peristiwa yang menyebabkan kakaknya, Ramli, terbunuh dengan sadis. Tujuannya tidak jelas, entah silaturahmi entah membunuh rasa penasaran. Mungkin ia berharap kata maaf, namun hampir seluruh pelaku pembunuhan tidak merasa bersalah atas peristiwa itu.
Tiap hari Adi menonton film rekonstruksi pembantaian yang dibuat oleh Joshua, sang sutradara. Para pelakunya adalah orang disekitar lingkungan rumah Adi. Pembantaian diperagakan sedetail-detailnya mulai dari lokasi hingga suara yang muncul saat leher para korban disembelih. Juga entah apa tujuan sutradara mempertontonkan film ini kepada Adi berkali-kali. Mungkin ia ingin memancing kemarahan Adi. Namun yang ada hanya ekspresi diam, ekspresi yang dipertontonkan berulang-ulang oleh sutradara. Mungkin ekspresi inilah yang pada akhirnya ditangkap dan diangkat oleh sutradara menjadi judul film ini, The Look of Silence. Namun oleh ko-produser atau ko-sutradara Indonesia meng-Indonesia-kan judul film tersebut menjadi “Senyap”. Dalam film ini diam dan sunyi menjadi simbol kebisuan keluarga korban karena takut dan sedih, namun juga bisa bermakna keheningan negara dalam usaha meluruskan sejarah. Film ini adalah sekuel dari film yang berjudul Jagal (The Act of Killing), film yang juga memiliki tema yang sama, namun menjadikan para algojo pembantaian massal sebagai tokoh utama dalam film tersebut.

Pemilihan
tokoh Adi Rukun mungkin bukan tanpa alasan. Ia hidup ditengah keluarga
yang sangat sederhana. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai tukang
kacamata. Adi Rukun dan keluarganya dapat mewakili kehidupan orang-orang
yang dimarginalkan oleh sistem akibat status keluarga PKI yang
disematkan kepada mereka.
No comments:
Post a Comment